12 Maret 2013..
Suatu hari yang akan mengubah banyak hal dalam kehidupanku saat ini. Ya, sebuah perjalanan suci, perjalanan ibadah umrah yang hanya Allah yang bisa memanggil setiap hamba-Nya berjalan dan menuju tanah haram-Nya.. Walaupun anda punya uang, walaupun anda dlm kondisi berada, walaupun anda berkuasa, namun.. Jika Allah swt belum berkenan memanggil anda berkunjung ke tanah suci-Nya dan menikmati sajian terlezat dari sang Pencipta, maka tidalah anda bisa melakukan perjalanan indah ini.
Mengapa saya berkata demikian? krn ini ada kaitannya dgn perjalanan saya kemarin yg tidak bisa lepas dari cerita setahun sebelumnya..
Setahun sebelumnya, saat makan malam bersama keluarga di Solo, tiba tiba ayah dan ibu saya meminta saya untuk membuat paspor. Heran, karena saya tidak merasa akan melaksanakan perjalanan ke luar negeri. Kemudian beliau menjelaskan bahwa kami sekeluarga akan berangkat ke tanah suci. Sontak saya kaget dan jujur saat itu perasaan saya campur aduk.. antara senang, takut, khawatir, bahkan ada sedih.. Apakah saya yang masih bergelimang dosa ini pantas datang ke tana suci??
Semenjak hari itu, teruus saya berfikir g karuan.. perasaan yg muncul di hati sangat campur baur.. Sambil ikhtiar menyiapkan paspor untuk keberangkatan, pikiran saya masih penuh dengan tanya.. “Bagaimana kalo disana begini, Bagaimana kalo disana begitu…: dan banyak lagi. Sampai muncul celah syaithon yang selalu membisikkan kesesatan begitu ada kesempatan, perasaan yg awalnya campur aduk ini berubah menjadi kesombongan.
Saya waktu itu begitu bangga bercerita ke teman teman saya bahwa saya akan berangkat ke tanah suci, seakan sayalah yang paling suci diantara mereka, Naudzubillah.. dan saya terlupa esensi ibadah ke tanah suci ini (umrah).
dan benar, saya khilaf dan akhirnya Allah-pun menarik nikmat-Nya untuk bisa berkunjung ke tanah suci saat itu.. Benar benar bisaaa dan adaaaaa aja yang menghalangi saya untuk berangkat. Padahal paspor udah siap, dana sudah ada, tinggal berangkat. Namun, Allah masih mengatakan tidak saat itu, mungkin karena tingkah saya yang melampaui batas.
Alhamdulillah, Allah membuka mata hati saya dan menyadarkan saya akan kesalahan saya.. segera saya mohon ampun kepada Allah, istigfar sebanyak banyaknya, dan tetap bersabar serta ikhtiar dgn doa agar suatu saat nanti bisa datang menuju tanah suci-Nya..
dan sekali lagi, Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu.. tepat pertengahan januari kemarin, Ayah dan Ibu saya kembali memanggil saya untuk bersiap siap, sebuah kejutan, 12 Maret 2013, kami bertiga mendapat kesempatan kembali menuju ke tanah suci.. Alhamdulillah..
Maha Suci Allah yang telah mengatur segala hal dengan sebaik baiknya.. Perjalanan saya kemarin sangat istimewa.. sangat. Bagaimana istimewanya? insya Allah akan saya ceritakan di lain kesempatan.. :)
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) maqam Ibrahim;barangsiapa memasukinya(Baitullah itu) menajdi amanlah;mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah,yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kesana. Dan barangsiapa yang ingkar(terhadap kewajiban haji),maka bahwasanya Allah Maha Kaya dari semesta alam (Ali ‘Imran [3]:97)
All the poetry ever written
Every verse and every line
All the love songs in the world
Every melody and rhyme
If they were combined
They would still be unable to express
What I want to define
When I try to describe my love for you
Every sound and every voice
In every language ever heard
Each drop of ink that has been used
To write every single word
They could never portray
Everything I feel in my heart and want to say
And it’s hard to explain
Why I could never describe my love for you
There’s not a single person
Who can ever match his worth
In character and beauty
To ever walk on earth
I envy every rock and tree
And every grain of sand
That embraced his noble feet
Or that kissed his blessed hands
Ya Rasool Allah
Ya Habiba Allah
Grant us the chance to be with him
We pray to You Allah